Rabu, 10 April 2013

Teater Jendela - Diploma IPB

Keluarga Teater Jendela berada di bawah nauangan Diploma IPB, yang dicetuskan oleh angkatan 43 pada tanggal 16 Mei 2008. Kami adalah keluarga yang solid , selalu bahagia dan bersama dalam suka dan duka . Kami masih dan akan selalu menuntut ilmu tentang teater . Motto kami adalah "APA YANG TERJADI , TERJADILAH".
Alamat: Kampus Diploma Institut Pertanian Bogor

Teater Karoeng - Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Budaya Universitas Pakuan


Teater Karoeng adalah sebuah komunitas teater yang bernaung di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Budaya (dulunya Fakultas Sastra) Universitas Pakuan, Bogor, yang bergerak di wilayah kesenian, khususnya seni pertunjukan. Benih Teater Karoeng sudah muncul sejak tahun 1999 (diawali dengan kelompok Most Crazy People). Baru pada sekitar tahun 2001 Teater Karoeng dijadikan nama kelompok itu. Teater Karoeng meresmikan keberadaannya pada tanggal 12 Juli 2003, dengan mengadakan sebuah pementasan tunggal pertama Teater Karoeng, “Tumirah Sang Mucikari” karya Seno Gumira Adjidarma.
Teater Karoeng berusaha untuk mewadahi berbagai potensi seni yang dimiliki oleh setiap anggotanya. Tujuan itu pula yang menjadi dasar pemikiran digunakannya nama karoeng (karung), yaitu sebuah wadah yang bisa menampung apa saja. Dalam wilayah kesusastraan, misalnya, Teater Karoeng pernah meluncurkan sebuah antologi puisi “Hentakan dari Jiwa” (2004) dan “Dunia Dalam Kata” (2007). Disamping itu, Teater Karoeng juga sering mengadakan acara pembacaan puisi, diskusi, dan lain-lain.
Beberapa produksi: "Tumirah Sang Mucikari" karya Seno Gumira Adjidarma, sutradara Juniardi, produksi tahun 2003, dipentaskan di Auditorium Universitas Pakuan. "The Curse of the Golden Flower” (Naskah adaptasi dari Film dengan judul yang sama), sutradara Arif Rakhmanto, produksi tahun 2007, dipentaskan di Auditorium Universitas Pakuan. "Enggak Sopan" (The Boor) Karya Anton Chekov, sutradara Rudi “Bhodink” Ardiansyah, produksi tahun 2009, dipentaskan di Universitas Pakuan, Universitas Djuanda, IPB, dan Gedung Kesenian Kemuning Gading. "Prodo Imitatio” monolog karya Arthur S. Nalan, sutradara Ahmad “Aday” Dayari, produksi tahun 2010, dipentaskan di Anniversary Teater Karoeng 2010, FKIP, dan Saseka. "Mentang-mentang dari New York” saduran oleh Noorca Mahendra, sutradara Dimas “Acun” Hadi, dipentaskan dalam acara Parade Teater Kampus Bogor di Gedung Kesenian Kemuning Gading, tahun 2012.
Selain mementaskan naskah yang sudah dikenal, Teater Karoeng juga produktif dalam membuat dan mementaskan naskah karya anggotanya sendiri, diantaranya ialah: "Senja dalam Segelas Susu” karya Rudi “Bhodink” Ardiansyah (Tawuran Topeng 2), "Lalu Entah” karya Husni “Brok” Mubarok (SMP BPK Penabur, 2004), "Tanabata Ne” adaptasi legeda Jepang oleh Husni “Brok” Mubarok (SMK Wikrama 2005), "Waktu Luang” karya Endang “Nana Gemblong” Supriatna (beberapa kali dipentaskan), "Malam Pengakuan” karya Dimas “Acun” Hadi (Tawuran Topeng 5), "Senandung Sampah” karya Ahmad “Aday” Dayari (Tawuran Topeng 6),dan beberapa naskah lainnya.

Agenda Tahunan (yang masih berjalan):
Tawuran Topeng. Dilaksanakan sejak tahun 2005, Tawuran Topeng adalah sebuah pagelaran bersama yang biasanya menampilkan apresiasi dari beberapa komunitas di Bogor dan sekitarnya. Selain pertunjukan, ada juga workshop dengan tema berbeda setiap tahunnya.
PUSTAKAROENG (Pustaka Bulan Puasa Teater Karoeng). Adalah sebuah perpustakaan umum yang dilaksanakan setiap bulan puasa sejak tahun 2005. Buku-buku yang disajikan adalah buku-buku koleksi pribadi dan sumbangan dari beberapa orang. Biasanya kegiatan ini digelar di halaman Fakultas Sastra Unpak.

Alamat: Gedung Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Budaya Universitas Pakuan, Ciheuleut, Bogor

Sanggar Seni Teater Lentera - Universitas Djuanda

Seni adalah bahasa jiwa yang sempurna sebagai bentuk apresiasi nyata yang mampu menyuarakan setiap gerak langkah jeritan nilai-nilai hidup manusia dan budaya adalah bahasa kalbu yang murni keluar dari dalam jiwa para leluhur kita sebagai simbol yang melambangkan bentuk hidup rukun dan saling menghargai antar sesama. Sanggar Seni Teataer Lentera adalah salah satu wadah seni yang mencoba mengangkat nilai-nilai seni dan budaya, yang didirikan pada tanggal 15 Mei 1996 di Kampus Universitas  Djuanda Bogor. 

Visi
“ikut berperan serta dalam menumbuhkan kehidupan berkesenian dilingkungan komunitas sebagai lingkungan kampus baik perorangan maupun bersamaan (kolektif)”
Misi
Menjadikan organisasi SSTL sebagai wadah dan kantong yang bisa menjembatani hasrat berkesenian mahasiswa khususnya dalam bidang seni teater bagi para mahasiswa. SSTL diharapkan bukan sekedar kawah candra dimuka melainkan sebagai barometer yang bisa melahirkan seniman-seniman teater yang benar-benar memiliki nuansa dan wawasan berkesenian yang luas.
Mengapa Lentera ?
Laksana bayi yang baru lahir, setelah terbentuknya kesamaan tujuan dengan kebetulan tekad masing-masing. Kita mencoba menamai komunitas seni tersebut. Beragam nama pun ditawarkan mulai dari Teater I.r.H Djuanda, Teater Puncak, Teater Hijau hingga Teater Lentera.
Setelah masing-masing mempresentasikan nama yang diajukan, barulah pemulihan pun dilaksanakan dan nama Lentera lah yang mendapat dukungan suara lebih dibandingkan nama-nama lainnya.
Tak urung dalam langkah berjalannya komunitas ini berbagai kendala baik internal seperti SDM serta eksternal dalam hal ini birokrasi kampus harus dijalani dan dihadapi dengan kesabaran dan lapang dada. Ditambah lagi, komunitas ini keberadaanya masih dipandang sbeblah mata. Persoalan tersebut lebih bermuara dari adanya pandangan yang sempit dalam melihat dan menilai komunitas ini dibandingkan dengan komunitas atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya. Sehingga cap kumuh, gembel, dan tidak memiliki masa depan menjadi “stempel yg terus menjadi pemicu dan pemacu kami untuk tetap eksis, berekspresi dan berkarya semaksimal mungkin dengan berbekal dari potensi yang ada.
“Salam Seni dan Budaya”
Seribu berwajah satu
Satu berwajah seribu
Alamat: Kampus Universitas Djuanda, Ciawi, Bogor

Teater Prabu



Sanggar Teater Prabu merupakan wahana berkarya para pelaku seni kota Bogor yang tergabung dari berbagai kalangan seperti pelajar, mahasiswa, bahkan ada juga yang sudah bekerja. Sebelum terbentuk nama Prabu, sanggar yang terlahir dan hidup di ruang tradisi ini telah mengalami metamorfosis dari tahun 2001 yang semula bernama Korejat. Pada tahun 2003 Korejat berganti nama menjadi Lakon Group dan terus mengembangkan sayap kekaryaannya hingga berhasil meraih medali emas Porsenida tingkat SLTA se-Jawa Barat di bidang mendongeng. Memasuki tahun 2005 kembali berganti nama menjadi KSR (Komunitas Seni Remaja). Berarmadakan siswa-siswi SMA, KSR lahir sebagai ekstrakurikuler yang banyak mementaskan pertunjukan-pertunjukan seni di dalam maupun luar sekolah. Drama Kabaret berjudul “Petualangan Cinta” menjadi karya yang laris dipentaskan.  

Seiring perjalanannya KSR terus mengalami perkembangan pesat dan berganti nama menjadi Teater Tumaritis (TETRIS) pada tahun 2007. Prestasi demi prestasi terus ditorehkan oleh komunitas seni yang berdomisili di Bogor selatan ini. Prestasi gemilang yang berhasil diraih diantaranya: Juara 1 lomba fragmen tingkat SMA se-Kota Bogor dan maju ke tinggkat Provinsi mewakili Kota Bogor; Juara 2 lomba dongeng tingkat SMA se-Kota Bogor; Juara 3 festival teater IPB tingkat SMA se-Kota Bogor; Juara 1 Lomba Kabaret yang diselenggarakan IPB tingkat SMA se-Kota Bogor. Selain berkontribusi besar dalam ranah prestasi, banyak pula naskah teater dan kabaret yang telah digarap dan dipentaskan seperti naskah Kisah Cinta dan Lain-Lain karya Arifin C. Noer, naskah Sendal Capit, naskah Juragan Hajat, hingga akhirnya setelah 4 tahun berkarya dengan almamater Tumaritis, komunitas yang pernah terlibat dalam penggarapan ulang tahun Bogor ini akhirnya pada tahun 2011 membentuk sebuah  Sanggar Independen yang tidak lagi terbatas pada periode dan usia. Sanggar itu bernama Sanggar Teater Prabu.

Ternyata nama “Prabu” membawakan Revolusi besar dalam perkembangan karya-karya seni kami. Pementasan perdana kami adalah naskah drama berjudul “Kabayan di Negeri Romeo” karya Rosyid E. Abby dalam acara Gebyar Drama pendidikan yang diselenggarakan di FKIP Universitas Pakuan. Serangkaian pertunjukan di acara-acara akbar Kota Bogor menjadi ruang eksistensi kami di Masyarakat, hingga pada tahun 2012 kami dipercaya untuk mewakili Kota Bogor dalam ajang Festival Teater se-Jawa Barat yang diselenggarakan Universitas Padjajaran dan berhasil membawa pulang Tropi Gubernur dengan meraih Juara 1. Di Bawah pimpinan Dede Muchlis, S.E. yang akrab disapa “Kakang Prabu”, Sanggar Teater Prabu berusaha untuk terus berkreasi, berkarya dan bekerja penuh dedikasi demi menjaga tradisi.
 

Alamat Sanggar: Amplitheater Rancamaya : Rancamaya Rt 02/07 Kel. Rancamaya Kec. Bogor Selatan - Kota Bogor.
Contact Person: 08999573177
Facebook: Teater Prabu

Playground Theater Institute


PlayGround Theater Institute adalah sebuah lembaga kesenian nirlaba profesional yang mengangkat konsep berteater terutama dalam wacana absurditas dan kontemporer. Lembaga ini pun di masa depan akan lebih mendekatkan dan menularkan virus berteaternya ini dalam zona yang lebih jauh dan komprehensif. Karya-karya yang dimunculkannya selalu dalam proses wilayah ”taman bermain”. Semua aspeknya tercipta dan lahir dalam bentukan yang dieksplorasi melalui daya kreasi yang imajinatif, penuh fantasi, dan kedisiplinan dalam proses pembelajarannya. Mengambil pemahaman berteaternya sebagai ”play with heart and the playground will play!”. Cikal bakal lembaga ini dimulai dari tahun 2005 dan mulai diresmikan secara formal mulai tahun 2007.  Lembaga ini diusung oleh pekerja teater yang berasal dari alumni dan mahasiswa Institut Pertanian Bogor dan penggiat teater dari masyarakat Bogor dengan pendiri utamanya adalah Luki Safriana S.Hut, MBA;Ervika Dian Anggia Putri, SE; Nurohman, S.Pi; dan Sugianto Agung Raga, SP.
Kegiatan : Bogor Monolog Festival 2009, Bogor Monolog Festival 2011, Roadshow Soundeath Artshitex, Roadshow Repertoar Cacat Mental antara Hujan, Tidur, dan Air Mata.
PlayGround Theater Institute
Jl. Babakan Tengah No. 6 RT 02 RW 09
Dramaga - Bogor 16680
No. Telp. +62 251 862 3546
FB : PlayGround Theater Institute
Blog :playgrounders.wordpress.com
Email : ptiplaygrounders.gmail.com
CP : Nurohman
HP : 08567830405
Email: nurohmanberaksi@gmail.com
FB : Omen Sam Nurohman
Twitter : @omensamnurohman
Blog : omensamnurohman.wordpress.com

Teater KaliYuga

 
Teater Kaliyuga berdiri pada tanggal 24 April 2010 di Bogor. Nama KaliYuga sendiri diambil dari bahasa sangskerta yang berarti akhir zaman. Menurut Bram, L. Gerung, pemimpin Teater KaliYuga, nama itu tidak dimaksudkan bahwa Teater KaliYuga muncul di zaman sekarang, yang sering dianggap sebagai zaman akhir peradaban, tapi lebih diibaratkan sebagai sebuah doa bahwa Teater KaliYuga akan terus bertahan hingga zaman manusia berakhir.


Teater Kaliyuga beranggotakan dari berbagai usia dan lapisan masyarakat. Dari usia remaja sampai dewasa. Dari perawat, pengajar, pelukis, penari, pemusik, pekerja fil, pelajar, dan sebagainya. Hingga tulisan ini dimuat, Teater KaliYuga sempat menampilkan produksi pertamanya yaitu “Dalam Balam-Balam: Sang Kala, Sang Pemimpi, dan Sang Zaman” yang dipentaskan di beberapa sekolah dan di Gedung Kesenian Kamuning Gading Kota Bogor pada bulan Maret 2012 dalam kegiatan Parade Teater Kampus Bogor.

Alamat: Jl. Cempaka no. 15 Bogor

Tempat Latihan: Gedung Kesenian Kamuning Gading Kota Bogor

Contact Person: Midha (0856 7547 594)

“Dongeng Emak”: Eksplorasi Teater Gading



Beberapa foto, catatan pertunjukan, serta penghargaan menjadi ucapan selamat datang bagi siapapun yang hendak menyaksikan pertunjukan Teater Gading SMAN 1 Leuwiliang di Gedung Kesenian Kamuning Gading, Sabtu 06 April 2013 kemarin. Sebuah pameran yang cukup mengejutkan bahwa ternyata, kelompok teater dari barat Bogor ini memiliki jam terbang yang cukup banyak dengan prestasi yang banyak pula. Perlu diketahui bahwa “Dongen Emak” merupakan produksi Teater Gading yang ke- 12 dan sempat dipentaskan sebelumnya di IPB.
Pertunjukan yang tadinya dijadwalkan empat kali itu, rupanya dipangkas menjadi tiga kali (pukul 13.00 wib, 16.00 wib, dan 19.00 wib). Penonton, yang didominasi pelajar SMU dan mahasiswa, secara bergantian menyaksikan lakon “Dongeng Emak” (fragmen dari lakon “Kapai-Kapai” karya Arifin C. Noer) yang dibawakan Teater Gading. Karena beberapa alasan, saya memilih jadwal terakhir. Toh, saya pikir sajiannya tidak akan jauh berbeda, meskipun belakangan saya baru tahu, bahwa masing-masing pertunjukan dimainkan oleh aktor yang berbeda.